Senyum Mereka Terkembang Lagi

Saya ingat tiga tahun lalu ketika baru setahun saya mengabdikan diri mengajar di SD Negeri 02 Pejagan. Bu Ratinah -Guruku juga di kelas tiga SD dulu- yang saat itu memegang kelas satu meninggal dunia. Innalillaahi wa inna ilaihi rooji’uun!! spontan kami terkejut, pasalnya selama ini tidak ada tanda-tanda kalau beliau itu sakit. Biasanya 3 gelas es teh bisa beliau habiskan selama jam sekolah aktif. Saya sampai salut mengingat tak segelas es teh pun bisa saya habiskan sekaligus (he..dasar g suka es!!), padahal saya lebih muda darinya.

Mendengar berita duka itu, kami semua langsung meluncur ke Kota Baru, tempat beliau tinggal. Putra-putri mereka terlihat  sedih, apalagi de Intan -si bungsu yang masih duduk di bangku SMA-. Matanya sembab, terasa oleh saya betapa dia kehilangan ibunya dan tentu saja saya juga karena dulu saya memang dekat dengan beliau.

Ternyata tak hanya saya dan de Intan, anak-anak kelas satu pun merasa sangat kehilangan. Beberapa diantaranya ialah Dida, Dela dan Fatimah. Untuk mengobati rasa kehilangan itu, saya sering datang ke kelas mereka, di samping memang ibu kepala sekolah juga mengamanahi saya untuk masuk kelas mereka. Kira-kira sampai akhir tahun belum ada guru pengganti untuk Almarhumah  Bu Ratinah, maka terpaksa kelas satu dipegang oleh tiga orang secara bergantian, karena kebetulan saya tidak bis ful bersama mereka. Jadwal mengajar saya terbagi dua, di SD 01 dan 02 masing-masing 3 hari. Jadilah mereka bak ayam kehilangan induknya. Sedih hati ini melihat mereka, tapi apa daya saya hanya guru mata pelajaran. Lagipula jadwal saya terbagi dua, “Ya Allah… Mengapa Kantor -P dan K Kec. Tanjung- tidak segera mengutus pengganti almarhumah?” bisikku dalam hati.

Saatnya Ujian Akhir Semester (UAS) Genap!! Saatnya mengurus raport mereka. Alhamdulillaah bisa diselesaikan tepat waktu, terima kasih untuk Ibu Kepala Sekolah yang telah membimbing saya untuk belajar menulis raport mereka.

Di kelas dua saya sudah jarang bergaul dengan mereka karena sudah ada guru baru. Sampai akhirnya kami bertemu lagi di kelas tiga, saya mengajar Bahasa Inggris di kelas tiga. Setiap kali saya bertanya tentang Bu Ratinah, masih tersirat rasa rindu mereka pada beliau. Ternyata kehilangan ibu guru pun dapat membuat kita seperti trauma, apalagi kalau ibunda kandung kita sendiri yang meninggal -Ya Allah..mudah2n Engkau memberikan umur yang berkah untuk Umi..-

Hari itu sengaja saya  memberikan games untuk anak-anak kelas tiga. Wow Subhanallah!!! ternyata Fatimah berhasil memboyong 2400 poin untuk timnya. Riuh tepuk tangan ditujukan untuk Fatimah dan teamnya. Saya melihat kebahagiaan meliputi wajah mereka semua, baik yang kalah maupun yang menang, walaupun ada beberapa anak laki-laki yang kurang puas dengan hasil akhir permainan. Biasa… mereka memang suka protes, tapi tidak mengapa. Untung.. mereka berani berpendapat dan Alhamdulillaaahnya..senyum mereka bisa terkembang lagi. Wuih senangnya…!!!

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.